Tampilkan postingan dengan label TintaPena. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TintaPena. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Maret 2013

That Shadow Seems Too Clear


“Aku bukanlah orang yang tidak tahu-menahu mengenai dirimu.
Aku tak perlu menemukan alasan, sehingga mengenalmu itu mudah.
Karena, aku cukup memberimu pembuktian, bahwa kau sendiri yakin
untuk berlari ke arahku ketika kau membutuhkan.
Aku memang tahu-menahu, namun bukan berarti aku pandai
menebakmu.
Aku bisa membaca bias matamu, tapi aku tak mengerti
mengapa ia di situ?
Malah memperindahmu, yang ternyata harus menjauh...”
Beberapa bulan yang lalu. Dini hari, Tsania harus terjaga karena suara guntur yang menggetarkan jendela dan dinding kamarnya. Juga, memekakan telinga. Hujan lebat sedang menembus keheningan malam yang disukainya, membuat Tsania harus mati-matian mengembalikan waktu-waktu tenangnya yang langka. Sambil berusaha memejamkan mata—berharap ia tak pernah mendengar geletar atap yang melawan air—ponselnya berdering pendek, sia-sia lagi.
‘Pasti kebangun?’ terangkai pertanyaan singkat di layar, begitu singkat—dan tak seberapa penting—sehingga seharusnya Tsania tak perlu merepotkan diri menggubris pesan itu. Seharusnya. Jika saja bukan Wildan.
‘Dasar! Spying!’ jemari Nia mengetikkan sepasang kata, mengirim pesan itu, kemudian terhenti di atas keypad ponselnya. Pandangannya enggan beringsut meninggalkan layar, masih di sana bersama seukir senyum di wajahnya.
Nia benar-benar telah menemukan cara menulikan telinga dari hentakan air hujan yang menghujam seisi bumi.
Spying? Enak aja. Kamu nggak jauh beda dari aku. Lupa? Hahaha.’
~***~

 

 
Entah mengapa segala bentuk carut-marut di hadapanku kini semakin jelas. Nia. Dia tiba-tiba memudar, seperti terus menghambur, menghampiri bayang-bayang yang tak tersentuh. Sedangkan aku, masih di setapak yang sama, mencoba memahaminya bahkan aku berharap mampu menebaknya. Mungkin dengan begitu, segalanya akan jadi lebih mudah.
            Mengapa tidak aku beranjak untuk kesempatan atau kepastian lain yang sebenarnya sedari dulu mungkin saja menjadi milikku?
Tidak. Aku mungkin tidak lagi memiliki kesempatan atau tidak lagi pantas mengharapkan yang-selama-ini-kuharapkan-darinya. Aku mungkin juga sangat payah dalam hal memahaminya, aku selalu mengeluh apakah perempuan memang se-moody itu sehingga ketika nyaris aku mencapai arahnya, mereka berharap untuk berbalik arah. Kuakui, aku tidak bisa—dengan baik—memahaminya. Namun, untuk itulah aku akan tetap di sini, selalu berusaha memahaminya.
Lalu hujan pagi ini, menghempas akalku jauh-jauh, membuatku kembali menginginkan Nia memberiku jawaban. Air hujan melebur debu daratan—dan juga debu kenangan—mengimbaskan kepulan uap meronta dari muka tanah. Segala yang ringan telah menguap, sedangkan yang pekat masih mengendap. Dan, bayangan Nia adalah kepudaran terjelas yang tersisa, di benakku.
~***~
“Wil! Curang kamu! Kok nggak bilang kalau pagi ini ulangan harian matematika?” racau Nia seketika mendapati wajahku melintasi pintu kelas, kedua alis tipisnya jelas nyaris berhimpit dan itu cukup menggentarkanku.
“Aku juga baru tahu pagi ini, Tsania. Itu juga dari twitter,” bantahku sambil meletakkan tas—agak menghempas—ke bangku di sebelah Nia yang masih berdiri ketus, masih memindai kesalahan dari ujung rambut hingga ujung kakiku.
Aku tidak menggubrisnya jika masih ingin mengomel, langsung kubuka sebuah buku catatan yang setiap lembar isinya begitu coreng-moreng oleh tulisan tanganku yang ternyata memang tak terlalu nyaman dilihat—aku tak akan pernah memaksa seseorang membacanya. Namun tampaknya itu membuatnya semakin kesal.
Nggak beri kabar tentang ulangan, nggak belajar!” ujarnya sambil merampas buku catatan dari hadapanku, membuka-bukanya sambil berjalan pergi.
Aku hanya mendengus sambil perlahan menyandarkan punggungku di sandaran bangku, mengamati Nia yang beberapa detik kemudian membalik badan dan mempercepat langkah menghampiriku.
hati
 
“Ini. Kenapa justru membaca catatan seperti itu?”
“Kamu berharap aku membaca catatan seperti apa? Kau tidak mengizinkanku belajar, sejak awal tidak ada yang akan belajar,” jawabku sambil menyeringai penuh kemenangan ke arahnya. “Aku harus merekap iuran baju panitia segera.”
Nia memberengut lalu pancaran matanya berangsur-angsur menjadi sayu. Ia duduk di bangku sebelahku lalu menelungkupkan kepalanya di atas meja di balik lipatan kedua tangannya.
“Aduh, gimana ini? Aku belum siap apapun untuk ulangan. Aku nggak paham apapun,” keluhnya dalam suara parau khasnya ingin menangis, namun kupikir itu karena nafasnya yang terkepung lengan-lengannya.
“Sudah kuduga karena itu,” sahutku tanpa mengalihkan pandangan dari angka-angka nominal pada lembaran putih di hadapanku. “Sudah kuduga. Aku tidak perlu menanyakan, mengapa kau terus saja melipat wajahmu seperti itu.”
“Dasar kau!” ujarnya sambil meraih bukunya dari meja dan memukulkannya perlahan ke pundakku.
Tiba-tiba gurauan kami terhenti melihat seorang anak yang tampilannya begitu asing. Aku pikir, mungkin itu hanya Hani yang memang menggemari aksesoris eksentrik dan hari ini adalah fase kronisnya. Namun ternyata, wajah di balik kacamata hitam itu menunjukkan orang yang berbeda. Meskipun eksentrik, namun masih cenderung lebih sederhana dari Hani. Mungkin kesan itu terbawa oleh rambut hitam kecokelatan, gelang dan jam tangan  yang dirantaikan di satu pergelangan tangan, dan kaos kaki tinggi warna thistle membebat telapak kakinya—tampilan yang membuatku berpikir bahwa gadis itu Hani.
Siapa dia? Kontan muncul pertanyaan terlebih pada diriku sendiri.
“Sepertinya dia anak baru yang kabarnya menjadi teman sekelas kita. Kalau nggak salah sih, namanya Adalia Lenata. Aku iri sama namanya,” terang Nia seolah pertanyaanku tadi tanpa kusadari telah terlontar dari mulutku. Atau memang sudah?
Setelah gadis yang isunya bernama Adalia tadi berlalu, keheningan mencekat seketika juga luntur, orang-orang telah kembali sadar akan kegiatan yang sebelumnya mereka sedang lakukan. Berlebihan memang. Namun begitulah reaksi setiap orang saat Adalia melintas tanpa sepatah teguran pun, seolah koridor yang dilaluinya merupakan jalur eksklusif baginya sendiri.

 
“Apa gadis itu sombong?” tanyaku pada Nia yang sudah kembali menelungkupkan kepalanya di balik kedua lengannya, membuatku seketika mendengus.
“Wildan!” sahut seseorang dari pintu, kontan aku menoleh lalu mendapati Fano berdiri di ambangnya. “Mas Raihan tanya tuh masalah rekapitulasi iuran.”
“Oh iya, di mana Mas Raihan?” tanyaku sambil menyelesaikan sisa-sisa data yang juga harus direkap lalu segera membereskan segala bentuk lembaran kuitansi yang tertumpuk di meja.
“Di Matematika 1, buruan ke sana deh!”
“Oke, makasih ya Fan!” sahutku sambil memperlebar langkah meninggalkan ruang kelas.
Aku merasakan ponsel di sakuku bergetar tiada jeda, namun aku tidak bisa menunda langkah untuk mengecek kepentingan macam apa yang sedang merecoki ponselku. Toh, kemungkinan besar hanya Mas Raihan yang kukuh menghubungiku pagi begini.
Aduh.
Eh maaf, aku nggak sengaja. Maaf ya,” ujar seseorang di sebelahku, tiba-tiba tangannya terulur memunguti kuitansi yang berceceran. Adalia.
“Maaf banget. Maaf kalau kamu juga sedang buru-buru, jadi harus ngulur-ulur waktu,” gadis itu tidak berhenti mengucapkan maaf, lagi-lagi seolah berpikir hanya ada dia di tempat itu. Sehingga hanya dia juga yang bisa disalahkan.
“Sudahlah. Aku nggak masalah, kok. Terima kasih udah merapikan selebaran kuitansi yang kecil-kecil ini. Kamu Adalia, kan? Salam kenal. Duluan, ya!” ujarku berusaha membuatnya tidak lagi mempermasalahkan kejadian ceroboh tadi. Tidak juga dengan menyalahkan diriku, karena meski mungkin ada benarnya, namun sepertinya gadis itu sulit menemukan sisi lain daripada miliknya sendiri. Bisa-bisa dia semakin menyalahkan dirinya.
Ah, terserahlah. Yang terpenting sekarang, mengantarkan setumpuk ‘makan malam’ ini pada Mas Raihan.
“Sudah selesai semua kan, Wil?” tanya Mas Raihan telak di ambang pintu ruang kelasnya, seperti sudah terprogram apabila menemuiku bersama buku gelatik bertumpukkan lembaran-lembaran lain yang lebih kecil.
“Sudah, Mas,” jawabku yakin, bukankah itu jawaban yang telah lama Mas Raihan—dan aku sendiri—ingin dengar? Aku pun selalu berharap bisa segera mengatakannya.
~***~
Nia sakit. Ternyata, ketika pagi itu ia terus menerus menelungkupkan kepala dalam hening, ia bahkan lebih dari sekedar pening memikirkan ulangan matematika yang begitu dibencinya. Sekembalinya dari menemui Mas Raihan, bangku di sebelahku telah terisi orang yang berbeda lalu mendengar bahwa asma Nia kambuh membuatku merasa bodoh. Bagaimana bisa aku mudah saja menebak dirinya yang selama ini selalu gagal kutebak? Mungkin aku yang selalu gagal, atau Nia yang bersikeras menyimpan segalanya dengan rapi. Begitu juga dengan betapa tak terduga dirinya yang berjuang menghela nafas, bahkan mungkin sejak dia tidak membantah apapun saat aku menduga dirinya sedang panik akibat ulangan harian. Kegagalan yang ke berapa kalinya ini?
Lalu di bangku yang ditinggalkan itu, duduk Adalia yang tampak terkejut melihatku memasuki ruang kelas lalu meringsut ke bangku di sebelahnya. Seandainya ekspresi Nia juga semudah ini diperkirakan.
“Hai, kita ketemu lagi dan nggak menyangka ternyata kita satu kelas,”gadis itu tak segan mengulurkan tangan lazimnya seorang yang memperkenalkan diri. Namun sebenarnya aku menolak kata ‘nggak menyangka’, sebab aku sudah mengetahui ini sebelumnya, dari Nia.
“Aku Wildan,” sahutku sambil meraih uluran tangannya, formalitas.
“Adalia Lenata. Panggil saja, Lena,” ujarnya sambil tersenyum simpul, kemudian berpaling pada novel dalam genggamannya.
Aku baru menyadari maksud senyum Lena yang terkesan bukan sekedar beramah-tamah. Sejak awal bertemu gadis itu, aku terus-menerus memanggilnya ‘Adalia’ dan baru saja ia membenarkan nama panggilannya menjadi ‘Lena’. Kebanyakan orang memang merasa lucu ketika orang lain memilih nama panggilan yang bisa dibilang tanggung ketika diucapkan.
Siang ini akan ada pertandingan futsal, namun aku terpaksa izin karena keharusan bagiku sendiri untuk menjenguk Nia tidak bisa berhenti berdengung di benakku. Awalnya tiada masalah meskipun harus bertanding tanpa cadangan. Tetapi, tiba-tiba Rendi menghambur ke tengah-tengah tim kelasnya yang sedang melakukan pemanasan sebelum pertandingan dua menit lagi.
“Ren, buruan pemanasan! Kamu itu ngapain?” suruh Fariz yang terkesiap mendapati Rendi bahkan belum mengenakan kaos tim, matanya tajam menyala seharusnya tidak membebaskan Rendi dari perintahnya.
“Riz, aku nggak bisa ikut bertanding!” kata Rendi kontan membuat seluruh anggota tim yang sedang pemanasan menoleh ke arahnya, diam. Mereka tahu, Rendi akan memberi penjelasan meski dua menit bukanlah durasi yang pantas dibuang-buang untuk sekedar tahu mengapa salah satu pemainnya ini tiba-tiba berubah pikiran. “A-aku. Aku harus menjemput orang tuaku dari bandara, mereka pulang lebih cepat dan baru saja menghubungiku.”
“Kita nggak punya cadangan, woy! Kamu nggak tanding, berarti semua nggak bisa tanding! Kamu ngerti nggak, sih?” Indra telak tak mampu menguasai emosinya, ini hal yang sudah biasa.
“Kalau kamu bisa membicarakannya dengan Wildan, kamu bisa pergi. Satu menit,” ujar Fariz tenang, meski ia tidak sepenuhnya menganggap semua akan baik. Seperti setiap orang yang lain, masing-masing selalu tidak terduga. Paling tidak, ia tak pernah ingin sulutan api ini terbakar, seolah memang tugasnya.
Aku baru saja hendak melajukan motorku bebas ke jalanan ketika tiba-tiba suara derap kaki diiringi sahutan seseorang dari kejauhan semakin terdengar jelas.
“Wildan!! Tunggu, Wil!” teriak orang itu dan ketika kubuka penutup helm di depan wajahku, baru kusadari Rendi terengah-engah menghampiriku dari gerbang dalam.
“Ada apa, Ren? Bukannya sebentar lagi pertandingan mulai, kok kamu justru ke sini?” tanyaku dengan pikiran yang terpilah-pilah—bagaimana keadaan Nia? Bagaimana pertandingannya?—,sangat memusingkan.
“Aku harus pergi secepatnya, Wil. Tolong, kamu harus main di pertandingan gantiin aku! Satu menit lagi, Wil. Udah nggak ada waktu,” terangnya sehingga sekesiap aku menghambur ke lapangan tempat pertandingan berlangsung. Menyambar sisa kaos tim yang tergantung di ruang ganti, mengenakannya, dan segera menempati formasi kosong di lapangan. Nia, maaf aku belum bisa menjenguk siang ini.
~***~
Aku merasa ingin meminta maaf kepada semua orang, harus. Sepertinya Nia salah paham atas beberapa hal, namun aku tidak menemukan kesempatan untuk meluruskan setiap kekusutan ini. Seandainya aku bisa membuat kesempatan, sebelum kesempatan yang kupilih adalah kesalahan. Maka, anggap saja aku tak punya pilihan! Kalaupun ada, itulah satu-satunya yang tak berhak kuambil. Terlalu banyak yang selama ini menjadi sia-sia.

 
Beberapa hari yang lalu, Lena mengatakan bahwa ia menyukaiku sejak kali pertama kami bertemu. Aku tidak mengerti apapun tentang rasa suka yang seperti itu, bukan berarti Lena sedang membicarakan omongan kosong. Bukan. Hanya saja, selalu dalam diriku menganggap cinta pandangan pertama itu bullshit, bukankah dunia ini sempit? Suka itu tak akan sama dengan ketika menyukai seseorang yang sudah begitu dikenal. Aku telah menyukai seseorang, yang bukan sekedar telah lama dekat atau kukenal. Ia seperti tetesan embun dari pucuk daun—bulir-bulir kehidupan yang membiaskan cahaya. Pengaruh terindah.
Namun Rendi diam-diam menipuku, semua orang, dan dirinya sendiri. Ia mendustakan perasaan sukanya pada Nia, lalu meninggalkan pertandingan futsal dan pergi menemui Nia. Entah sejak kapan mereka ternyata cukup dekat hingga Rendi berani menyatakan suka pada Nia yang tidak menjawab tidak. Namun, aku berharap ia tak akan pernah mengatakan iya. Mungkin terlalu banyak hal yang tidak kuketahui—atau hal yang aku lebih suka untuk tidak mengetahuinya. Tetapi apakah tidak ada segelintir pun sesuatu yang bisa diandalkan? Yang tersisa, aku hanya tahu, aku masih tidak mampu menebakmu.
Sepertinya bulan ini akan menjadi bulan bercurah hujan terberat dalam setahun. Sangat terlambat, mengingat kini telah menjejaki Maret yang rutinitasnya mulai membagi-bagi kehangatan sinar matahari. Atau mungkin kebetulan sore ini saja? Hujan hanya bermaksud menyambut isi hatiku, begitukah? Namun aku tak akan bisa sekedar mencapai pagar sekolah tanpa terguyur habis-habisan, jika hujan bersikeras mengepung setiap sudut daratan.
“Mengapa kau masih diam di sini?” tanya Lena yang entah-sejak-kapan ia mulai duduk di sebelahku.
“Kamu pikir dengan hujan seperti ini, masih mungkin?” jawabku ketus tanpa memalingkan pandangan padanya.
“Bukan. Mengapa kau masih diam di sini? Kau masih terus begitu, padahal situasinya akan terus berubah. Kau mengandalkan keberuntungan segalanya akan membaik, atau pasrah karena kau tahu semua akan semakin buruk?”
Kali ini dia berhasil mengalihkan pandanganku, tatapanku jatuh tepat ke kedua mata yang menerawang jauh seolah ia tak harus menyalahkan hujan deras yang mengaburkan segala hal dalam pandangan.
“Kau tahu Rendi menunggu Nia, kau tahu dia tidak terlihat seperti orang yang menyerah begitu saja. Kau tahu Nia sebenarnya menyukaimu, dan kau tahu mengapa ia menjauh. Kau tahu banyak hal yang tak kau akui ada dalam dirimu. Mengapa kau berhenti?” lanjutnya seakan ia mahir menerjemahkan keheninganku, aku tak mengerti yang ia ucapkan. Maksudku, mengapa ia mengatakan ini?
“Apa maksudmu? Jangan berperilaku seperti kau mengetahui apapun!”
“Aku tidak mengetahui apapun. Namun melihat dirimu sekarang, paling tidak aku tahu lebih banyak daripada dirimu sendiri!” jawabnya seketika kedua matanya menantangku, segala kekosongan yang baru saja tampak mengapung dalam pandangannya hanyut.
“Kau menyukai Nia, lalu katakanlah! Kau tidak bisa terus-menerus membiarkan dunia bergerak sendiri. Hidup ini bisa saja membawa Nia ke sudut bumi yang tak akan kau temui. Buatlah keputusan!” lanjutnya, bola matanya terlihat lebih jernih namun bergetar. Lena menangis.
“Apa yang membuatmu merasa kau mampu mengatur perasaanku?” tanyaku datar tetapi aku tak ingin pembicaraan ini begitu saja berakhir. Tak perlu diragukan, Lena tahu tentang Nia. Ia tahu yang perlu kuketahui.
Ia tersenyum getir ke arahku lalu menyapukan pandangan ke tanah, rapi di antara tundukan dalamnya.
“Mengapa aku harus mengatur perasaanmu, jika perasaan itu telah ada di hatimu? Lagi pula, kau pikir siapa yang bisa mengatur perasaanmu, bahkan kau sendiri tak akan mungkin?”
Ia mendenguskan sehela nafas sambil melembutkan nada suaranya. Tak seperti yang sudah terjadi, kali ini Lena mengisyaratkan segala ekspresi menjadi kesatuan yang menjawab sebuah makna. Pedih. Entah apakah itu mengenai dirinya atau dia mencoba mengartikan situasi rumit ini sebagaimana ini terlihat, dan terasa.
“Ketika seseorang telah menyukai orang lain, maka ‘memilih’ hanyalah kesan yang kenyataannya tak pernah sempat dilakukan bahkan sebelum perasaan itu datang,” lanjutnya kemudian beranjak pergi, melangkahkan kakinya menembus rimba hujan.
Sesaat aku berdiri dan mencoba meraih pergelangan tangannya, tetapi..
“Aku baik-baik saja. Kau yang harus mulai memikirkan keadaanmu,” ucapnya sebelum aku sempat melarangnya nekad melawan derasnya hujan. Entah kebekuan macam apa yang memasung tubuhku bergeming, namun yang pasti kesan itu muncul seketika Lena menolak uluran tanganku. Pertolonganku. Beberapa saat yang lalu, ia membuktikan bahwa ia bisa melihat sisi lain di luar dirinya. Namun beberapa saat yang lalu juga, ia kembali menjadi dirinya yang melangkah sendiri.
~***~
Hari itu, aku memberanikan diri menemui Nia dan sungguh di luar dugaanku, dia menimpali setiap obrolan yang kulontarkan begitu saja seolah tak pernah ada cukup alasan untuk berubah. Tak pernah ada yang terjadi. Apakah ini bagian dari yang-tak-bisa-kutebak? Atau, melupakan yang selama ini terjadi memang mudah?
“Aku pernah mendengar seseorang mengatakan bahwa, ketika seseorang telah menyukai orang lain, maka ‘memilih’ hanyalah kesan yang kenyataannya tak pernah sempat dilakukan bahkan sebelum perasaan itu datang—“ kataku sambil mengawasi ekspresi Nia dari ceruk mataku, namun dia terlalu tenang untuk memiliki ‘ekspresi’. Jangan lagi!
“—Dan, seharusnya aku tak merasakan ini jika aku tahu tidak ada pilihan. Namun, aku benci bahwa kenyataannya kau tidak bersamaku.”
“Tunggu. Maksudmu?” tanyanya, masih dalam ketenangan yang menggelayut di setiap sudut wajahnya.
“Aku tidak bisa memilih yang akan kusukai, demikian juga kau. Kita tidak bisa meminta apalagi membuang perasaan yang kita sendiri tak mengerti bagaimana bisa, mengapa, atau dari mana semua itu. Lalu, ketika aku tahu kau tidak bersamaku—“
“Aku tidak bersamamu?” kilahnya sambil menelengkan kepala, tampak jelas ia mengecam kalimat itu. “Aku tak mengerti persahabatan kita selama ini kau artikan sebagai hal seperti apa. Yang aku tahu, sepertinya aku hidup di dunia yang salah.”
“Ya, hidup dalam dunia yang tersaput ketakutanmu. Selagi aku tetap di sini, bisa jadi aku tidak terlihat lagi,” lanjutnya.
“Aku hanya ingin menyadari kenyataan—“
“—Tapi kau belum bisa juga?” selanya. “Kau hanya perlu melihat kebenarannya. Sebagian besar kenyataan ada bersamanya. Bukankah begitu pun cukup?”
“Jika aku tak pernah melihat kebenarannya? Semua terlalu tersimpan rapi.”
“Kau selalu melihatnya, tapi kau tak berani sedikit pun menebak. Kau takut kan, jika mereka tidak sesuai harapan?” jawabnya sambil melemparkan tatapan dingin padaku.
Kontan aku tak berani menatap kedua mata Nia yang tiba-tiba gelap dan beku. Bisakah sebuah palung terkubur di sana sekali waktu? Hingga untuk pertama kalinya, aku merasa sangat ingin melarikan diri, menghindari kedua mata gadis yang kukagumi.
“Aku tak menginginkan ini. Aku tidak menyukai Rendi, tapi aku tak menginginkan persahabatan di antara kami runtuh karena pernyataan sederhana. Begitu juga yang kuharapkan darimu,” terang Nia dengan suara yang terdengar sedikit parau.
“Mengapa kau mengharapkan itu? Jadi sebenarnya bagaimana dengan dirimu sendiri?” Aku meraih bahunya, mengapa ia di situ? Bias-bias tegar berpendar dari matanya. Malah memperindah dirinya.
“Aku juga tidak mengerti apapun tentang diriku sendiri!”
“Baiklah, aku mengerti. Maksudku, aku mencoba mengerti. Apakah ini pernyataan sederhana yang kau maksud?” Aku melepas cengkeramanku dari bahunya, ini bukan kesan yang kuciptakan. Bukan ujung yang kutuju. Aku tahu berat, mengapa menolak kebenaran?
“Bukan. Kau tidak paham!”
“Ya, aku memang tidak bisa memahamimu! Itulah yang membuatku masih di sini, untuk selalu berusaha memahamimu.”
~***~
Kini aku telah bersekolah di SMA yang lain, bahkan tidak lagi hidup di kota yang sama dengan di mana Nia tinggal. Aku dan keluargaku harus menerima kepindahan ini atas sebab yang telak memenangkan nyaris segala alasan. Aku tidak peduli cahaya baru apapun yang ditawarkan, bayangan yang mereka bentuk tidak akan cukup menimpa bayangan Nia, kepudaran terjelas yang tersisa. Aku masih punya waktu. Aku masih bisa menunggu.

Sabtu, 29 Oktober 2011

~***~
ZANTEDESCHIA
Karya
Raisadinda Pramesti
~***~

"Calla lily (zantedeschia)--bunga lili putih"

Sejak diagnosis penyakit menjangkiti tubuh mungil Calla, dua bulan yang begitu singkat dan terasa tak pernah cukup untuk membuatnya siap. Sekali pun waktunya yang tak lebih dari sekali debur ombak dihabiskannya untuk mengasing dari segalanya yang bernyawa, apa yang beruntung di dunia, mereka yang punya mimpi dan harapan—tentu saja masa depan, mungkin tetap tak ada kesempatan melupakan tawaran hidup. Bernafas dengan sisa-sisa keberanian untuk bertahan. Tapi, bertahan macam apa yang mungkin disanggupinya? Tidak benar-benar bisa disebut bertahan, hanya.. merasakan waktu, yang jelas membuatnya semakin merutuki masa lalu. Kebisuannya tak bisa disalahkan. Telak. Bukan berarti orang-orang begitu saja maklum, karena jelas perkara ini memutar balikkan fakta. Mungkin saja, menyendiri bukan satu-satunya solusi yang bisa ditimbang, atau datang serta merta menutup kemungkinan lain yang memang tidak mengubah keadaan, setidaknya tidak ada potensi lebih buruk. Jelas lebih tidak mungkin jika cara ini menjadi pilihan pertama Calla di balik selaksa imajinasinya yang tak ubahnya warna tumpah dalam semburat senja. Bukan caranya. Ternyata, beban batin ini jauh lebih tidak dapat diduga bahkan tak memiliki bayangan. Terdesak lumbung udara yang gelap tapi membentuk warna-warna, maya. Ya, warna-warna—hitam mengabu-abu—yang bahkan tak terlalu bertahan dalam penjara yang dibuatnya sendiri, tak berhasil bangkit dalam dunia yang mengadakannya. Dan bukankah dia ada, tapi mengartikan makna tanpa terjemah? Tak terjangkau.
Lagi, suara parau terisak yang tak pernah menjadi bagian keputusan Calla—secara sengaja—terdengar bertahan dalam gelombangnya. Seperti karang yang ditakdirkan untuk ombak. Dan suara itu, mengucapkan lantunan kalimat yang begitu klasik. Dengan generasi waktu yang berbeda, situasi yang seharusnya sudah lama terbaca dan jelas segalanya telah berubah, lantunan kata itu tak bermaksud terganti. Itu masih sama—dialognya, nadanya, intonasinya—yang membuat Calla tertegun setiap merasakan batas dengan suara itu, meski hanya hamparan kayu membilah pintu. Ia takut, masih ada yang bisa ia rindukan saat ia harus pergi nanti.
Mengapa kalian seperti itu? Mengapa kalian harus seperti itu? Bukankah banyak prioritas yang kalian miliki? Tapi mengapa harus begini?
Bukannya tidak mungkin kembali dan menikmati yang berhak menjadi miliknya meski sesaat, namun konsekuensi berikutnya yang bisa jadi tidak mungkin sanggup ditanggungnya. Sejauh ini, hanya segelintir hal yang berlalu sewajarnya. Calla menangis, bukan untuk penyakit ini—toh, air mata bukan sejenis obat—tapi untuk setiap bulir warna terumbu yang melukis dasar samudera, kebahagiaan. Normal, karena ia bisa merasakan apa yang semestinya dirasakannya. Menangis.
Calla melangkah ke sudut balkon dan mengenang, sesekali tatapannya jatuh pada hamparan kanvas yang bercoreng cat, menggubah kisah bentangan padang lili putih—zantedeschia—waktu senja. Dan, apapun impian yang terpaut bersamanya, tak sepenuhnya berarti saat senja semakin jelas berpisah. Ketika kedamaian langit guncang dan sewaktu-waktu menimpa zaman, bahkan sebelum impian itu menjelang, harapan sudah bertumpu penyerahan. Tapi itu hanya angan yang ditolaknya, hingga saat ini. Saat di mana Calla tidak akan terbunuh oleh penyakit, namun oleh mimpi dan harapannya selama ini—menyematkan senyum dalam kedamaian kecil zantedeschia-nya.
Diagnosis leukemia lymphoblastic-nya tidak seburuk kenyataan lain yang seolah belum puas dengan serangan takdir yang seharusnya cukup mematahkan tulang juang Calla. Canna, sahabat kecil Calla, yang menghabiskan nyaris sepenuhnya umur mereka untuk mengenal dunia bersama, menerjemahkan bahasa alam yang penuh makna cita dan kehidupan—membuat mereka merasa beruntung dengan masa depan yang mereka perjuangkan. Ia terserang sindroma caplan—penyakit sejenis paru-paru hitam akibat paparan debu batu bara dalam jangka waktu cukup lama—di mana penyakit tersebut belum ditentukan metode penyembuhan total.
Dua hari yang lalu, Calla tahu ia kehilangan sahabat terbaiknya, tidak sekedar untuk senyampang waktu, dan dia lebih merasa kehilangan jiwa terhadap kenyataan ini. Ia juga tahu orang tua Canna depresi dan bagaimana tidak? Melepaskan gadis penuh teguran jiwa, kebeningan batin, dan filosof makna yang familier dimengerti namun sarat kebenaran bukan setaranya sehembusan angin semata. Di sisi lain dukanya, Calla menemukan senyumnya—miris. Teringat persis ucapan Canna ketika kehilangan kakaknya beberapa tahun lalu,
Mereka yang menghilang, tak memiliki batas di antara kita. Semudah hidup menyusul mereka yang tiada. Meski yang tiada memiliki lika-likunya sendiri nanti, keabadian yang sebenarnya hanya satu. Sepedih mereka yang pergi dan tak kembali, dan kelak bertemu tapi tak mengenali. Sesederhana itu. Antara hidup dan mati.
Calla tak bisa berbohong, membohongi dirinya pun ia tak memiliki alasan. Ia memang bisa sedikit menakar, sisa masa yang tersisih untuknya—paling tidak, bukan waktu yang bisa membuat siapa pun tidur dan bermimpi. Namun setelahnya—setelah Canna memandangnya penuh tanya di keabadian—bukan keinginannya mempersulit yang rumit, bukan berharap segera mengakhiri yang disebutnya rumit, tapi bukan berarti mudah menentukan manfaat atas semua hal rumit ini. Karena sedikit pun, manfaat tidak tampak berguna.
Beberapa hari kemudian, Calla muncul di ambang pintu rumahnya. Sikap sederhana itu tetap membuat respon tak terencana bagi orang-orang yang menunggunya. Ibunya menangis, ayahnya tersenyum sarat kejujuran, dan Bela, sahabat sekaligus tetangganya, langsung menghabiskan Minggu paginya untuk mendengar suara yang telah lama tenggelam bersama malam.
“Kamu tahu apa yang selama ini aku pikirkan, Bel?” tanya Calla tiba-tiba, sesaat setelah begitu hening karena Bela kehabisan bahan cerita.
“Mm, kamu.. kecewa?” Bela mencoba menebak meski langsung mendapat penolakan dari sorot kegelapan mata Calla. Tapi Calla tidak sepenuhnya membantah, mau tidak mau ia pasti tampak mengaku. Matanya menolak tapi hatinya terabrasi bersama sisa minggu yang terhabisi. Kecewa, sedih, menjadi prioritas orang-orang untuk memandangnya, tetap, meski ia berusaha lebih tegar dari yang seharusnya.
“Kecewa? Untuk? Aku tidak memiliki lebih kuat alasan untuk itu, meski bagaimanapun kebohongan tidak pernah bertahan, kan? Tapi bukan, bukan itu yang kumaksud,” ucap Calla tanpa melewatkan sepatah kata pun dari seringainya. Tetap terkesan, pahit.
“Jadi?” Bela tidak bermaksud mendesak, tapi ia hanya ingin sahabatnya itu memiliki tempat di mana ia dimengerti, selagi Bela berusaha.
“Kamu tahu dan aku yakin pasti tahu tentang leukemia. Apalagi yang minat bacanya bisa dibilang over dosis sepertimu, aku tidak bisa menduga jika ‘tidak’,” jawab Calla, memandang ke depan penuh terawang, seperti udara merupakan zat pekat dan yang terbentang selain itu mengebas. Masih tersenyum, tak menyisakan tenaga di dalamnya, tapi cukup membuat Bela menabur makna bahwa kecewa tidak seberat apa yang ingin disampaikannya.
“Novel, cerpen, segalanya berbau fiksi, karya-karya menjelma melankolis dengan mengusung penyakit ini sebagai konflik. Klasik. Begitu-begitu saja. Tokoh mati karena leukemia tidak ada metode penyembuhannya dan menganggap waktu singkat itu benar-benar nyata di depan mata. Padahal, apa bedanya aku dan kamu?” lanjut Calla, sesekali mengerling ke arah Bela yang terduduk bisu di sisinya. “Apa bedanya aku dan kamu? Aku sakit, kamu sehat? Itu saja? Setidak adil itukah dunia dan kehidupannya?”
“Maksud kamu apa sih, La? Aku mulai vertigo nih, hanya memahami omonganmu aja,” kata Bela lagaknya bercanda. Tapi, Calla sedikit pun tak lekang dari raut datarnya.
“Aku dan kamu, berada, bertahan, bernafas di ranjau waktu yang serupa, semasa. Apakah cukup dengan penderitaan ini, aku dan kamu dibedakan.. oleh nasib? Apakah sesederhana itu mereka memandang, bahwa nasib di bawah ambang takdir? Lupakah mereka, bahwa nasib bisa kurangkum lagi?” jawab Calla, tidak bermaksud mengubah pola kalimatnya terlalu gamblang namun beberapa detil topik seharusnya bisa ditebak.
“Jadi, apa masalahmu?” Bela bisa menerima. Ia mengerti bagaimana situasi Calla yang berbanding terbalik dengan masa lalunya. Penuh canda tawa, ceria, dan riang harus terbayar dengan menjadi salah satu dari kelompok mereka yang menyesali hidup.
“Orang tuaku tidak cukup mampu menanggung konflik batin mereka, teman-teman tidak bisa berhenti menatapku dengan ratapan kasihan. Aku tahu segalanya telah berubah, dan inilah yang membuatku takut kembali. Takut tidak siap menghadapi sekarang.”
“Kamu tahu mengapa karang diciptakan? Mengapa ia terhampar di samudera? Dan mengapa ia hancur?” tanya Bela tiba-tiba dan sama sekali terdengar seolah mengalihkan pembicaraan. Calla mengikuti arus ini.
“Kamu tahu?” Calla balas bertanya.
“Tentu.” Bela menyeringai, tampak tegar di balik bulir air yang menggenang di tepi kelopak matanya, seperti perisai kaca melingkupi bola mata beningnya. “Karang diciptakan tidak semata-mata karena takdir. Ia ada karena apa yang seharusnya ia abdikan di muka bumi.”
Calla melihat permainan warna di mata Bela, seperti ngarai yang menyimpan nebula dan pelangi. Terpaan cahaya membias tipis, seolah terlukis halus di matanya, membuat Calla sesaat terkesiap namun seketika tersadar senja telah tiba, mengusung warna-warnanya yang tak bisa bersama. Juga menampilkan pemandangan sejuta kenangan oleh alam yang diubahnya, begitu damai.
“Karang tercipta dalam warna-warnya yang bangkit dengan hidup bersama samudera. Ia membiarkan keberadaannya melindungi ombak dalam keseimbangan. Membiarkan ombak itu jatuh ke pangkuannya yang tak selalu siap menerima keangkuhan yang berlebih-lebihan. Bahkan rela sesaat tenggelam dan menunggu ombak memberinya kesempatan lain, meski tetap ada saat ia harus gagal. Membiarkan tubuhnya memutih, seiring masa perjuangannya berkerumun dalam garam. Lapuk perlahan dan hancur puas tanpa menyisakan serpihan yang tak terelakan,” lanjut Bela yang kini menatap Calla lebih dalam, memaknai kata-kata dalam gambaran yang diusahakannya tersirat dalam gurat bahasa. Hanya ingin membiarkan Calla menerima jika ia tenggelam namun tetap muncul dan pergi tanpa pupus asa.
~***~
Calla nyaris melupakan sakitnya yang mengkonversi hati dan pikirannya berbulan-bulan sebelum ini—sebelum ia memilih berdiri sebagai anak normal dan memiliki harapan dan mimpi, selalu yakin akan pemandangan senja esok hari dan hangat bumi masa depan. Bahkan vonis usia bertahannya hingga dua belas tahun terpatahkan. Setiap orang melihatnya, bangkit dari ranjang dan melompat dari anak tangga ke empat paling bawah menuju dasar dan melesat ke dapur, membantu ibunya merias meja makan dengan hidangan yang beraneka aroma, tak luput dari daya minat Calla. Setiap orang melihatnya, menembus usia ke-15 tahun tanpa pengaruh pucat pasi di wajahnya, aura usang tubuhnya sama sekali mati.
Pagi itu, ia dan ayahnya berkunjung ke panti asuhan—ayah Calla bekerja di lembaga sosial yang menyantuni anak yatim piatu—untuk menyampaikan dana bantuan hasil penggalangan sejak empat bulan yang lalu. Ketika ayahnya memasuki sebuah ruang tamu kecil di blok paling depan, entah mengapa Calla tidak berminat ikut masuk. Mungkin karena pembicaraan yang dapat diperkirakan tidak mencapai pemahamannya atau intuisi.
Ia berkeliling di sekitar komplek panti asuhan hingga tiba di sebuah kebun sempit di blok paling belakang. Bunga beraneka ragam dan harum yang menyeruak setiap partikel udara menggubah suasana yang terlampau tenang, hingga angin pun seolah efektif membuyarkan keheningan. Benar, intuisi. Begitu banyak bunga yang dibiarkan merasakan keagungan alam, namun zantedeschia seperti menemukan surga. Kicir air buatan menepi di sudut dan menyalurkan air ke pengairan kecil-kecilan yang terus bercabang menyambut nafas bunga-bunga yang tumbuh. Tak jauh dari semak belukar yang mengimbas aura liar, zantedeschia bangkit dari kerimbunan tanah, dan seketika itu semak belukar kehilangan kepedihan. Lalu berjarak beberapa meter dari hamparan zantedeschia itu…
Seorang anak laki-laki, mungkin kisaran usia sepuluh tahun, duduk berhadap-hadapan dengan kanvas coreng-moreng tak karuhan—seperti abstrak, abstrak yang tak teorisitis. Calla menghampirinya, mengambil kuas yang terkulai begitu saja di atas palet yang mulai belepotan warna gelap saja. Calla menyampurkan beberapa warna cerah tanpa berpaling untuk memastikan sepasang mata yang menatapnya, bingung. Lalu ia hanya mengalihkan pandangan pada kanvas putih tertebarkan gelap pekat itu dan menggores sedikit demi sedikit kuasnya membentuk torehan warna baru yang cemerlang dan tampak sigap sambil berkata,
“Begini cara melukisnya..”
Lalu anak itu berhenti menatapnya dan pandangannya melayang pada warna yang seketika menutup kekelaman yang terbesit beberapa saat tadi. Membuatnya sedetik melongo, karena semudah itu Calla mengubah pemandangan menjadi stepa dan kebun-kebun zantedeschia padahal ia hampir berjam-jam tak mengubah posisi, terus berkutat pada palet untuk melebur hitam.
“Hitam kadang kelihatan tidak terkalahkan. Tapi di sini kamu menuangkan apa yang sempat kamu pikirkan, bukan sesederhana mencampur warna untuk sebentang lukisan. Tidak seperti matematika yang jelas memiliki kunci jawaban pasti dan selalu telak, atau ilmu alam yang di mana saja kamu dapatkan jawaban. Tapi seni, kamu mendapat jawaban hanya di hati,” kata Calla kemudian.
“Hitam bukan lawan yang mudah dicarikan setimpalannya. Ia harus ditumbuk berulang kali dengan inisiatif yang berganti-ganti namun dengan satu fokus yang konsisten, sehingga warna yang kau tuju itu bangkit dan hitam itu akan tenggelam. Memang, seolah semua warna di bawah kuasanya. Tapi, tidak demikian,” lanjut Calla kemudian meneruskan melukis hingga lebih dari separuh kanvas  mulai terisi sketsa.
“Tapi kamu harus punya strategi. Jika kamu tidak bisa mengalahkan hitam di medannya, lemahkan dia dengan kekuatanmu yang lain. Kamu tahu? Di sini kamu akan paham, jika kamu memiliki tekad lebih dari apa yang sebenarnya mungkin, kamu tidak akan menyangka kekuatanmu yang sebenarnya.” Calla pun selesai membuat sketsa lalu berdiri dan berniat beranjak, namun sebelumnya ia menepuk puncak bahu anak itu dan berkata, “kalau kamu mencampurnya di palet bersama segerombol hitam itu, mana bisa berubah warna? Bisa sih, tapi lama! Jadi kamu cuci dulu kuasnya lalu tutup warna yang salah di atas kanvasnya, di palet bukan untuk menutup warna, hanya untuk mencampur.”
Calla melangkah dalam derap langkah setimbang, tanpa mengurai senyum yang bertambatan di antara pipinya. Lalu tiba-tiba suara menyusulnya, riang di belakang, membuatnya kontan menghentikan langkah dan berbalik.
“Kak, besok datang dan melukis lagi ya!” kata anak laki-laki itu antusias, membiarkan binar matanya membuktikan kata hati.
“Oke!”
Pesan-pesan Calla dalam berbagai potongan—potongan waktu, situasi, dan keadaan—bak kerikil yang menggumpal menjadi batu besar yang dari masa ke masa semakin kokoh. Tak tertangguhkan masa lalu yang petang dalam keterpurukan. Tapi setiap senja punya malam, dan ketika malam tiba, setiap orang mengenangkan yang terjadi kala siang. Calla pergi bukan karena kesempatan bertahan melawan penyakitnya habis, namun akibat kecelakaan sepulang dari panti asuhan yang menyebabkan mobilnya oleng hebat dan ayahnya menanggung luka bakar. Tapi ia tak pernah percaya pada akhir kesempatan. Setiap kesempatan memiliki ujung pada takdir, kecuali tanpa perlawanan terhadap batas pertahanan. Paling tidak, ia tidak mengurung usia dalam vonis kosong yang mereka anggap seolah kepastian dan membuktikan bahwa tak ada yang salah dari takdir. Bahwa, leukemia tak pernah berniat membasminya atau siapa pun yang pernah mati karenanya, tapi harapan patah dan mimpi yang tertidur adalah kematian yang menyusul mereka, bahkan sebelum mati—dengan esensi nyata—dan bahagia dengan hidup yang tak bernyawa.
 
© Copyright 2035 Scarlet Threads Me
Theme by Yusuf Fikri